(Diary) Cita-Cita Nada
Hmmm … baru masuk sekolah satu minggu, Nada udah bawel. Hampir sepanjang jalan dari sekolah ke rumah mulutnya tidak berhenti cerita. Ditambah lagi hampir setengah jam ngobrol di rumah tentang hari –yang saya rasa membuatnya terkesan, di sekolah.
Ceritanya begini ... di hari ketiga di sekolah ada game tentang cita-cita. Masing-masing ditanya cita-citanya dan semua bingung mau jadi apa, termasuk Nada.
“Terus Kaka ingin jadi apa?” tanya saya untuk yang kesekian kalinya.
Nada tidak menjawab, dia malah tanya tentang tentara, dokter, polisi, astronot, guru, dan beberapa profesi lainnya, sama sekali tidak menyebut penulis! (Grrr ... amat menyebalkan, bukan?)
Saya jelas kan satu persatu, tentu saja dengan sesekali diselipi pertanyaan-pertanyaan yang membuat bibir tersenyum dan jidat berkerut. Misalnya saja pertanyaan seperti ini , “Kalau jadi tentara kan suka bawa rangsel, isinya bekal apa bukan? Bekelnya apa aja? Berat apa nggak?”
Atau pertanyaan, “Dokter, Tentara, Polisi, dan lain-lain semua punya kantor ya? Trus ngantor tiap hari kayak ayah dulu?”
Setelah ngobrol ke sana-kemari, saya tanya kembali. “Jadi Kakak inginnya jadi apa?”
Sambil ganti baju dia menjawab, “Pengen jadi tentara ..., polisi ..., pilot ..., dokter ..., sama penulis.”
Deg! Sejenak jantung saya berhenti berdetak!
“Pengin jadi penulis?” tanya saya (bener-bener nggak percaya).
“Iya, penulis kayak ayah.”
“Kok tadi nggak tanya apa aja kerjaan penulis?”
“Kan udah tahu ayah tiap hari!”
Hehehe ... aku tersenyum sendiri. Meskipun disebut paling akhir, pi cukup membuat saya bangga. Iya, siapa tahu nanti benar-bener jadi penulis. Nggak ada salahnya, kan?
Ali Muakhir
Penulis Cerita Anak
Peraih Adikarya Ikapi 2007